#4-6CatatanPulih
Selama kurun 6 hari ini, beta menghabiskan tenaga di perjalanan Ambon - Namlea - Wansar- Namlea - Ambon. Perjalanan ini memakan tenaga dan pikiran karena banyak hal. Tambang ilegal, sungai tercemar, masyarakat adat yang menjual tanah, ketimpangan sosial, diskriminasi adat, hilangnya identitas adat, pendidikan tertinggal, dan masih banyak lagi. Tampaknya rasa pulih sulit didapatkan karena segala kejahatan, dan benih-benih jahat. Semalam beta kembali ke lorong gelap. Mengikuti rasa amarah hasrat egoisme otak. Beta membiarkan tubuh dikoyak-koyak dosa, dan amarah. Beta biarkan tubuh menjadi bara tempat api dosa tumbuh. Beta menjadi layu, dan berharap agar tubuh menjadi mati, sembari berjalan menuju Buru dan kembali lagi ke Ambon. Ini menjengkelkan.
Lalu, dari pengalaman tersebut beta belajar pulih adalah menerima segala keadaan, dan berjalan lagi. Pulih tidak membuat kita berhenti, sebaliknya bertumbuh dari segala salah yang terjadi. Segala mati yang terjadi. Segala bangkit yang beta ambil. Segala cinta yang beta tanam dalam diri. Segala benih baik yang terus tumbuh, sembari cahaya kecil meneranginya menjadi cinta-cinta di tubuhku. Ada di tangan, ada di mata, ada di telinga, ada di hidung, ada di mulut, ada di kaki, ada di dada, ada di aku, aku.
Lalu, pulih juga mengajarkan aku untuk tetap merindukan Upuu dan kasih-Nya. Sekarang, saat mata menjadi liar, hati menjadi haus, Bapa, ampuni beta dengan segala rindu. Rindu akan kekasih jiwaku yang terus dan setia menunggu aku di tengah rasa dan amarah.
Beta kembali pulih, dan terus pulih pasca tulisan ini selesai.
selesai.
12.01 PM, the Gade, Ambon
Pulih
Komentar
Posting Komentar