#7Catatanpulih

So, today I messed up. I hated the hell out of myself. I just felt shamed and guilty and all kinds of negativity. I was surrounded by trauma, brain fog, and hatred. Semalam, ada teman bertanya kabar tentang beta. Lalu beta berkabar tentang segala salah, trauma, PTSD, perang, dan rencana masa depan. Ini juga menjadi alasan beta merasa cape dan lelah. Sangat lelah. Karena saat bersamaan beta seng benar-benar bisa bersandar pada seseorang. Mungkin Tuhan mau supaya beta bersandar sepenuhnya. Tapi beta pun menjadi Kristen karena kolonialisme. Dan sekarang beta pun dijajah oleh diri sendiri. 

Jadi di catatan pulih kali ini beta belajar hal terpenting, yang memang sudah beta pelajari berkali-kali, yakni: rutinitas malam, dan rutinitas pagi sama-sama berimbas pada sepanjang hari yang akan beta lalui. Lalu, beta pun harus hati-hati dalam merasa. Beta harus hati-hati dalam merasakan setiap kali ada orang yang bertanya apa saja. Karena dengan kondisi otak di-retraumatized beta harus menghadapi segala chemical yang menjengkelkan. Dalam perjalanan Namlea-Ambon, beta seng bisa benar-benar tidur dalam fery. Bukan hanya karena orang-orang banyak. Tetapi karena segala mimpi buruk yang beta rasakan, melihat beta sendiri. Beta sendirian. Dan pada saat bersamaan melawan segala ingatan buruk, dan beta seng bisa berbuat banyak. Beta ingin berteriak tapi seng. Beta ingin melawan tapi seng bisa. Jadi beta biarkan ingatan-ingatan ini terus menyiksa, sampai beta kehabisan tenaga sendirian dan lelah sendirian, dan mati pun mungkin sendirian. Beta ingin pecahkan, beta pung kepala. Jika ada senjata bisa saja beta tembak isi kepala ini. 

It sounds tragic and horrific, but that is the reality of me. I hate it, but I can't do much. I can pray. But praying without working is nonsense, too. Who wants to work with me? Who wants to be with somebody fuck up like me? Two days ago, I had lunch with my ex. She may want to get back, or at least "help" me, because of moral reasons. What? She left me, too. I meant she said: "I chose me, not leaving me." Everybody left me, too. So what can I do? Nothing maybe. Or something probably. Or everything could be.

I have no idea who I am or what my purpose is in this world. I know, people will say: "Riko, this and that", but cmon be real with me. They have no idea my childhood, and just dump all the things to me. My sisters and brother also cannot understand. Or at least they "normalise" my situation like "Riko cannot handle his emotions." I remember, once my sister told me: "you are not a child anymore. wake up." But when we were children, she did not experience my experience. It is true that saying: "just because you live in the same house, it does not mean you have the same experience." 

Pada catatan ketujuh ini beta menerima dan memberikan luka-luka kembali pada tanah.


Besok pagi bangun, lalu lari pagi, dan keluar rumah ke cafe atau tempat mana saja. Lalu, sebentar malam, baca buku, baca apa saja, dan matikan hape. Kembalikan otak pada fungsi utama. Beta harus mengontrol otak ini.

Semangat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

hujan

Dari

Untuk Lirani