Berhenti bercerita pada...

Jadi, karena belakangan ini beta oversharing, yang umum memang bagi orang-orang dengan PTSD. Tetapi belakangan ini, oversharing beta sudah terlalu over. Beberapa orang terjangkit stress, beberapa lain menjauh, beberapa lain juga menuduh, lalu hakimi beta, yang beta sayang pun juga harus pergi dan begitulah.

 Makanya, beta nampaknya harus berhenti bercerita pada orang-orang biasa, atau pun beta teman-teman biasa. Sepertinya beta harus menanggung sendirian dan tidak trauma dumping. Artinya, beta harus lebih lagi menyendiri dan menjauh, seperti beta pada masa-masa lalu, atau ketika kuliah. Beta harus lebih melindungi diri, dari ingatan-ingatan dan cerita-cerita yang jadinya beta malahan dihakimi, atau dijadikan bercandaan. Beta pun yang salah, karena menertawakan ingatan-ingatan itu. Beta minta maaf untuk diri sendiri. 

Sejak SD, lalu SMP, SMA, sampai kuliah, sebagian besar waktu beta habiskan sendiri. Pulang kaki sendiri, menahan lapar sendiri, berjalan sambil menangis karena seng ada uang sendiri, bahkan waktu kuliah 2014, beta menangis sendirian di lantai 3 kampus hukum, karena seng ada uang untuk beli buku. Akhirnya, beta jalan kaki untuk simpan uang. Waktu itu beta jalan dari fakultas ke tempat spit, supaya bisa simpan 2,000 rp. Jadi beberapa bulan, beta lalu bisa beli buku dengan uang itu. nantinya pas JMP su jadi, beta jalan dari fakultas lewat JMP, baru nai oto di MCM, dan bisa simpan 2000. Terkadang beta jalan sampai di belso, biar bisa simpan 5,000. Hehehe. Waktu kuliah beta sering dudu di perpus, untuk sembunyi2 karena seng ada uang. lalu, dong di perpus sesekali jaga kasi beta makang. hehehe. lalu pas semester 3 beta su sering bawa sagu, par bakal. beta jaga menghindar sandiri ka tambak, supaya jang orang iko pas beta makang sagu. lalu, deki (almarhum) jaga iko beta, plus juga febry, lalu rilen, tapi dia jarang. Deki yang paling sering. satu kali Deki datang di beta rumah, dan dia kaget karena beta rumah seng bae menurut dia. hehehe. 

Lalu, beta juga pernah dap user dari dalang kalas gara-gara manganto. padahal dosennya seng tau, kalau beta tidur jam 1 atau jam 2, bangung jam 5, lalu bajual, deng seng dapa tidor. hehehe. karena waktu tidor beta tabangong trus. jarang sekali beta bisa tidur sono. beta sering tabangong tiap malam. 

Dulu waktu SD, beta sempat menangis dudu tunggu mama. Lalu karena kasihan, mas yang jual es topi, kasi beta makan es sisa-sisa pung topi saja tanpa es. Waktu itu beta teman-teman su bisa bali, lalu dong juga kadang seng bage, dan beta malu hati minta bage. Makanya beta jaga dudu cuma lia dong makang sandiri saja. Tapi, beta juga pintar. Jadi, beta jaga nai pohon jambu di rumah kalau musim, lalu beta bawah ka skolah par bakal. Atau beta juga jaga maeng mutel deng maeng kartu, lalu kalau ada tamang yang kalah, nanti dia bali beta mutel atau gambar. ada juga yang dong pake uang par baku taruh. nah, beta dapa uang dari situ. dari judi. heheehe. 

Dulu waktu SD juga, beta sempat seng ada uang par bali pensil. Lalu karena seng bawa pensil, beta dapa kasi kaluar dari Ibu Guru. Beta menangis di belakang kelas sandiri-sandiri saja. Beta pura-pura lari ka WC untuk manangis karena seng ada uang par bali pensil. Lalu, akhirnya beta cari-cari di lapangan sekolah, lalu dapa pensil yang sisa akan ujung saja. Beta gembira, lalu masuk kelas tulis pake pensil yang sisa ujungnya. Itu beta kelas dua SD. Waktu itu katong ruangan di dekat kantin. Waktu kelas 1, ibu guru ajar katong, antua juga marah-marah beta, karena seng bawa pensil, padahal memang seng ada uang par bali. Kadang beta juga lupa. Beta juga sering dapa jumur karena terlambat. hehehe. Kadang karena bangun terlambat, tetapi beta juga jarang tidur tempo, soalnya banyak mimpi buruk. Sejak kecil mimpi buruk. 

Dani juga sering mimpi buruk. Semoga sekarang dia bae-bae saja. beta baru saja doakan dia, karena beta rindu dan juga sayang dia. semoga dia bae-bae dan bisa menjadi tenang, apalagi karena beta dia su seng tenang. ahhh. Dani, please take care okay. I miss you. I am sorry too.

Lalu dulu juga beta harus kerja "bantu" mama bajual, biking kue, bangong pagi, dst. Beta memang sering barmaeng jauh-jauh, lalu pulang dapak pukul, dapa bilang ini, itu, banyak lah. Beta masa kecil jarang ada bahagiannya. Dulu beta ada mainan tentara, tapi itu pun orang punya. Kadang beta ka tampa sampah untuk cari mainan, atau biking mainan sendiri. hehehe. sejak kecil beta su kreatif. 

Waktu kecil beta senang kalau ke hutan, biar bisa cari udang, atau dudu dengar aer sarohang. Sampe sekarang aer sahorang masih kaya dulu. untunglah orang-orang soya jaga hutan dengan baik. Beta senang ke hutan, lalu cium aroma daun-daun, cengkeh, pala, durian, manggustan, serbuk bambu, serbuk kayu durian, kelapa, daun-daun yang bungan kuning di muka rumah tua, bau tanah merah, bau tanah hitam, bau sagu, bau jambu, bau alpukat, bau tungku, bau ganemu, bau sageru, masih banya lai. 

Beta juga benci banyak hal. beta benci lia kekerasan, beta benci dapa kasi tinggal,  beta benci dapa marah tanpa sebab, beta benci bunga-bunga dapa cabu, beta benci lia orang baku bunuh, beta cape, beta benci hujan. tapi beta masa kecil dihabiskan dengan banyak merenung sendiri, refleksi sendiri, menangis sendiri, melawan sendiri, dikucilkan sendiri, dan semuanya sendiri-sendiri. Meskipun beta seng suka sendiri. 

Tetapi, nampaknya beta memang ditakdirkan untuk sendiri. Melawan sendiri, berpikir sendiri, menangis sendiri, tidur sendiri, sakit jua sandiri, tapi mama yang urus. Hehehe. Tapi sekarang waktu su basar, beta saki beta yang urus sendiri. Termasuk seperti sekarang ini, beta pasien rawat jalan pikiran.

Makanya dengan kejadian tadi malam, beta menyesal, dan menerima itu. Makanya, sekarang beta memilih untuk berhenti bercerita ke orang-orang. Terkadang beta harus menjadi tidak peduli, atau apatis dengan orang lain. Beta memilih berhenti bercerita, dan juga berhenti berbagi tawa. Beta menjadi kembali seperti masa lalu. 

Jadi, sekarang kalau orang-orang ingin bertanya, beta akan jawab "iya, itu sudah." Atau, "okay, begitu kah." Atau... yang paling beta sering lakukan masa lalu, just be alone. 

Anw, beta rindu beta teman SD namanya Beni. Dia sama dengan Deki, tapi beta lebih beruntung dong dua. Beni dulunya dikategorikan kurang pintar, padahal dia keluarga sangat susah. Tekanan ekonomi, tekanan keluarga, dia jarang masuk sekolah. Beta bersyukur masih sering baku suara dengan dia. Beni pribadi yang pintar, dan baik hati. Jika suatu waktu beta tiada, beta ingin orang-orang juga mengenang dia. Beni. Karena dia beta lebih banyak bersyukur, dan selalu bersyukur, serta giat untuk belajar. Satu waktu katong kelas masak di sekolah, katong lupa garang, dan akhirnya katong ka dia rumah. Soalnya, dia rumah dekat sekolah. Pas sampe, beta menyadari beta pentingnya tidak perlu berbagi sakit dengan orang lain. Beni jauh lebih susah. Lalu, satu waktu beta SMP dan sedang lewat muka BI. Beni kebetulan ada di situ, lalu dia dudu dengan anana Bataso. Ada yg mau semacam kasi taku deng pukul beta. Beni yang bilang dong jangan, meskipun beta seng lari satu orang dari situ. Tetapi Beni rayu dong dan berhasil. Beta masih ingat raut wajah Beni yang bantu beta saat itu. Beta juga masih ingat dia pung cara tatawa. Sekali lagi, beta belajar hidup dan bersyukur juga dari dia. 

Hal yang sama juga beta dapatkan di Deki. Deki dari MBD. Dia harus menanggung beban banyak juga, meskipun dia sering-sering sembunyi dan sadiki gring-gring. Hahaha. Dia sudah mati, karena entahlah. Beta ingin bakar pelayanan RSU waktu itu. Ketika dia sakit, dan hampir sekarat, suster2 deng mantri2 di samping ruangan, ada joget. Seng ada hati sama sekali. Tapi beta bersykur ketemu Deki dan dia juga ajak beta bersyukur. Dia sering sekali makan beta sagu, meskipun dia tahu beta seng ada uang untuk beli makanan. Tapi, Deki memang begitu. Dia deng Febri akhirnya jaga dudu-dudu dengan beta. 

Febri sekarang su di Tanimbar kalau seng salah. Beta su jarang bakabar dengan dia. Beta lebih dekatnya dengan Deki. Febri juga seng talalu banyak bicara. Tapi dia orangnya filosofis sekali. Tenang juga, mungkin karena dia dari Jawa. Febri juga bantu beta untuk belajar tidak perlu buru-buru, dan bertindak lebih cerdik seperti ular, maar tulus seperti merpati. Semoga suatu waktu beta bisa ketemu dia. 

Jadi, di cerita singkat dan senduh ini, beta menulisnya untuk menjadi pengingat, jika suatu waktu beta sudah lupa atau tiada. 

Terimaa kasihhh... :)


Kamis, 29 Januari 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

hujan

Dari

Untuk Lirani