Bercerita, Berpuisi Menderita lalu Bercahaya
Sewaktu itu, di Bukit Doa, Tomohon
aku berjalan-jalan menyusuri hutan
di awal jalan masuk tertulis: Harap Tenang
jadi, untuk kamu jangan buru-buru
Jangan cemas-cemas, mari tenang dulu
lautan Banda kadang tenang, kadang juga senang,
ketika gelombang datang
di situ cara lautan menengankan
biar jangan buru-bururehat sejenak, hela nafas sejenak
lalu mari mulai berjalan menyusuri
p e n d e r i t a a n
menuju
k e t e n a n g a n
Jadi, kala itu, hutan sangat sunyi
hanya derai daun dan burung-serangga menyanyi
mari menyusuri,
I
Dia dijatuhi hukuman mati
kabarnya untuk menyelamatkan manusia dari kuasa maut
agar setiap manusia gembira karena begitu besar kasih-Nya
memang wajah-Nya sedikit piluh
sembari tangan-Nya dirantai
II
lalu, Dia kemudian memikul kayu berat - Kayu Selamat
kayu ini ukurannya besar melebihi Dia
tetapi dengan bertelangjang kaki
dengan derita hakiki
dia menuju perlahan-lahan demi kasih-Nya
III
Sayangnya, Dia lalu terjatuh
piluh luka-lukanya memenuhi tubuh
Kayu Selamat sungguh berat
dia menuju perlahan-lahan demi kasih-Nya
IV
Kemudian, melihat derita itu
mama-Nya Mariamenangis piluh,
Anak-nya sedang susah
tiada mama yang gembira
melihat mata air mengalir di pipih anak-nya
V
Syukurnya ada seorang laki-laki baik
berani memikul bersama Kayu berat itu
sembari laki-laki baik itu memegang tangan-Nya
karena dia tahu bahwa yang membutuhkan bantuan adalah si laki-laki baik
bukan Dia yang sedang memikul Kayu Berat
sebelum lanjut, aku berhenti sejenak
melihat ke arah matahari sore
wajahku dipenuhi ceria
senyum gembira dan hangat
sudah lama aku tidak begini
sudah lama aku merindu
menjadi hangat bagi matahari
menerima hangat dari hutan
VI
perjalanan-Nya berlanjut
Dia terjatuh lagi
lalu, seorang perempuan berani
mengusap wajah-Nya
Veronika, nama perempuan itu
Veronika membasuh wajah-Nya
sedari dulu hanya perempuan yang memahami
apa arti dari penderitaan
VII
Dia terjatuh lagi, kedua kali
karena beban Kayu itu berat sekali
sedang tubuh manusawi-Nya tak berdaya
tapi tubuh rohani-Nya penuh daya
VIII
melihat itu, banyak perempuan lain
menangis Dia, tapi Dia berkata:
“tangisilah diri mu”
Sedari awal Dia tahu, jika derita ini
bukan derita tapi gembira
demi kasih-Nya bagi para perempuan-perempuan itu
bagi anak-anak, bagi laki-laki
bagi setiap insan
IX
demi kasih-Nya
Dia jatuh ketiga kali
tubuh manusiawi-Nya kali ini semakin menderita
tapi, Dia lebih lagi memeluk-memikul Kayu Selamat itu
sebelum kembali mengangkat Kayu itu,
tubuh-Nya dihantam cambuk dari prajurit
X
sampailah mereka di Bukit Kalvari
sebelum dipaku kaki dan tangan
pakain-Nya ditanggalkan
lalu para prajurit membagi-bagi pakaian itu
di kepala-Nya makhota duri tetap terpasang
XI - XIV
Dia sudah disalibkan, tubuh manusiawi-Nya
telah habis daya, Dia telah menyelesaikan
lalu sekitar jam 6 sore, tubuh-Nya diturunkan
lalu dikuburkan dalam sebuah goa batu
aku terus berlajan sembari mendengar
para serangga bernyanyi
para burung bersenduh
derai air yang mengalir
derai dedaunanan yang menari
kakiku yang berlenggang seperti habis amakan ice cream
aku menuju sebuah lorong gelap
dengan rasa penasaran aku terus jalan-jalan
di ujung lorongnya ada simpul cahaya
ada tulisan “Akulah Terang Dunia…”
dan di ujung lorongnya, ada seorang ibu
yang menggendong Anak-nya
ada lilin kecil menyala,
ada doa-doa yang dinaikan
ada rindu-rindu pada Tuhan yang dilantukan
ada hati-hati yang ingin dibasuh
ada ingatan-ingatan yang ingin dipulihkan
ada cemas-cemas yang ingin diserahkan
ada ampunan yang diberikan
ada ketengan yang diterima
ada aku yang turut mendaokan kamu
dan tubuhmu dan ingatanmu
dan impianmu dan kamu
:)
Aku menulis ini di Bitung
pada Kamis, 25 Juni 2026
selesai jam 1.45 pm
Semangat yah adek.
Komentar
Posting Komentar